Well Deserve Hyung

Assalamu’alaykum readersss

this is about my hyung future life

 

Shocking? I thinks not really, and I think this feel is not shock but flat while first time listening the news on July 5, 2017 about his plan to marries in October 2017.

Ya begitulah, pagi-pagi buka hape eh dikirimin berbagai berita dari temen yang juga menyandang status sebagai kdrama lovers. Bukannya shock seperti kebanyakan penggemar Song Joong Ki, aku malah asa kurang percaya sama pasangan yg dinikahinya ,Song Hye Kyo (waduh bisa digampar sama shipper songsongcouple nih, ampun yah).

Awalnya aku khawatir, hyung yang hampir berumur 32 tahun nanti menunda nikah sama kayak Samchon dokkaebi aka Gong Yoo yang udah mau 40 tahun belum nikah nikah . Yah secara temennya juga Lee Kwang Soo yg seumuran takut kebablasan umur gitu,wkwkwk. Well.. after read this news a half of worried about hyung marries is go on, fiuhhh… alhamdulillah

Tapi pada akhirnya well deserve buat Joong Ki hyung for getting married soon. Kalau hyung uda suka, udah cinta, udah sayang, udah serius, udah memilih, apalah dayaku sebagai dongsaeng gadungan yang ga kau kenal ini untuk melarang mu nikah dengan SHK. Bukan bukan bukaaann, bukan karena gue ga suka sama SHK, Cuma emang dari awal aku ada ilfeel kalau Hyung nikah sama SHK, (menurut akuuu, menurut aku loh yaa..) kurang sesuai aja gitu. Aku maunya hyung sama orang biasa aja, secara dia artis gitu atau yah kalau sesama artis dengan Park Bo Young atau kalau engga mau yg noona gitu sama Song Ji Hyo, soalnya kan aku udah tau kepribadian Ji Hyo trus mereka uda kenal sejak lama. Takutnya ini hyung sm SHK Cuma feeling abis drama dan pengaruh hyung setelah wamil untuk segera nikah (tapi semoga feel aku ga bener dehh, aamiin). Aku harap pernikahan kalian langgeng sampai nanti nanti yahh dan doaku selalu sama untukmu hyung yg selalu aku panjatkan sampai Dia memberikan yang terbaik.

Aku sengaja posting tulisan ini pas kalian udah nikah aje, biar bener-bener jadi gitu. Yah maklum lah sebelum janur kuning melengkung, apalagi pernikahannya masih terhitung 4 bulan dari sekarang, anything will be happen in the future. So kalo udah nikah posting ini jadi aaamaann hehehe.

 

South Jawai, July 5, 2017.

Noeul  Dongsaeng (gadungan)

Iklan

Teh Fit

 

13760_10203921415579201_9105655639696068647_n

Source: dokumen Pribadi teh Fit dari Facebook

Bismillah

Asssalamualaykum wa rahmatullah wa barakatuh

Dia merupakan salah seorang teman di kosan sekaligus seniorku di kampus walau beda jurusan. Satu tahun lebih dulu dari diriku. Namanya Nurfitriyani, sering dipanggil Fitri dan aku memanggilnya Teh Fit.

Teh Fit merupakan salah satu dari beberapa orang yang menjadi contoh bagiku terutama selama menjadi “manusia” di Bandung. Terlebih lagi sebagai salah satu orang yang berpengaruh dalam perbaikan pakaian ku.

Yup, perubahan cara berpakaianku tanpa kusadari berawal dari Teh Fit (ditambah Gomsimari :D). Karena Teh Fit memakai pakaian yang longgar, tidak pernah menggunakan celana apalagi celana jeans yang super ketat itu saat keluar rumah (kosan-red). Ditambah lagi dengan menggunakan jilbab lebar yang disyari’atkan dalam Islam. Hobi mendaki gunung dan travelling tidak menghambatnya dalam menjalankan perintah Alloh. Teh Fit maju terus pantang mundur lah bahasanya. Naik gunung, travelling, jalan terus pantang mundur dengan menggunakan rok bahkan gamis longgar plus jilbab lebar. Jadi deh di gunung nun menjulang tinggi di sana ada cewe yang mengibarkan sang saka Merah Putih bersamaan dengan jilbab dan gamis lebarnya hehehehe

Sikap Teh Fit yang dewasa menjadi tolak ukur bagiku untuk merubah sedikit demi sedikit sikapku yang masih ceroboh dan mungkin kekanak-kanakan (ini versi seinget aku yang sekarang loh teh 😀 *kalo teteh ngebaca posting ini juga sih :p). Terlebih lagi saat teteh ternyata sudah dilamar dan akan segera menikah. Wuiiii jadi inspirasi deh…tanpa pacaran langsung nikah :D. Well, Teh Fit ini orangnya kalem dan tenang sekalipun waktu kukuser (kumpul-kumpul seru) bareng sohib-sohibnya. Beda banget dengan gue yang langsung heboh dan gila, terlebih kalo lagi kumat waktu kukuser bareng temen-temen wkwkwkwkwk.

Hmmm…Teh Fit yang aku kenal juga merupakan perempuan cerdas terlebih dalam bidang literatur, memasak, membaca, maupun akademisnya dalam psikologi. Khususnya dalam bidang literatur dan memasak (karena ini yang hanya bisa diakses secara bebas dari Teh Fit hihihi). Kalo kemampuannya memasak wiihh jangan diragukan lagi, selain hasil masakan yang rapih, rasanya juga enak (walaupun sebenernya jaraaaaangg banget makan masakan Teh Fit huhuhu 😥 ). Jadinya weh sekalinya Teh Fit makan masakanku, jadi akunya yang minder gitu :3 bhahahaha

Nah kalo soal keahliannya dalam bidang literatur nih jangan ditanya. Tulisan-tulisan Teh Fit tuh menarik semua. Teh Fit bahkan sampai dikontrak untuk menulis cerita anak-anak, sering ikut lomba menulis dan bahkan sering juara! Kalaupun tidak dikontrak dan ikut lomba, Teh Fit tergolong aktif menulis di blog. Kalian bisa mengunjunginya di blog gulunganpita.com atau kotakcerita.com (uda lupa mana yang bener hihihi) Silakan membacaaaa.. 🙂

Jadii ga heran kalo wawasan Teh Fit tuh luas makanya dari itu aku sering nanya-nanya ke Teh Fit heheh bisa dibilang buku berjalan lah :D. Itu aja dulu deh yaa tentang Teh Fit.. habisnya banyak yang lupa sih.. udah lama ga ketemu trus uda lama sekosan lagi.. jadi banyak lupaaa. Sebenernya udah mau nulis tentang teteh dari berbulan-bulan yang lalu bahkan setahun yang lalu teh.. Tapi sering lupa dan lagi males nulis jadi tertunda tertunda dan tertunda.

Oh iya sekarang Teh Fit sudah dikarunia satu putra ,dipanggil ibunnya Kak Sin. Jadi teh Fit ini masih disibukkan dengan mengurus Kak Sin juga mengurus rumah tangga dan skripsi. Semoga urusan Teh Fit semuanya lancar yahh,,aamiin.

Well.. perlu diingat bahwa tidak ada satu niat pun dari Teh Fit untuk mengubah cara berpakaianku. Teh Fit hanya datang ke kosan ku tanpa kukenal sama sekali, ngontrak di sana, kemudian berkenalan dan akrab berteman. Teh Fit hanya bersikap dan berpakaian sebagaimana dia sebelumnya lalu membuatku sadar dan mengubah cara berpakaianku dan tidak ada paksaan bahkan sekadar nasihat yang dilontarkan dari Teh Fit. Mencontoh kemudian mencari suatu pencerahan lain salah satunya ikut kajian di Daarut Tauhid dalam majlis kajian Ma’rifatullah. Sampai saat ini aku menyebutkan jalan Alloh, takdir Alloh. Aku bertemu dengan Teh Fit dan aku mulai ikut kajian. Semoga Alloh ridho dan meng-istiqomah-kanku berikut Teh Fit dan para pembaca. Aamiin ya Robbal Aalamiin

Salam Rindu

One of your another lil sis 😉

Nurul Maulidya Putri

 

8 Months Later

Assalamualaykuummm wa rahmatullah wa barokatuh

Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam

Haaiii, helloo, anyeonghaseyo, hola….

Long time. Really loooonggg timee… maybe for me. Yup just it.. hahahha

Terakhir posting bulan Maret 2015. Sekarang bulan November 2015. maybe around 8 months later

Bukan karena malas posting atau apapun, tapi yah emang agak sedikit malas sih dalam 2-3 bulan ini, but there are a reason for that hehehe

Setelah tulisan terakhir aku benar-benar sibuk. Bersamaan dengan PPL (Program Pengalaman Lapangan), aku juga harus mengerjakan skripsiku jika tidak ingin mengulang kembali untuk penelitian di sekolah yang sama. Yap, itu benar kalo aku menempuh program sarjana di jurusan, fakultas, dan universitas pendidikan. Dan yaahhh mulai bulan maret ini aku benar-benar-benar-benar sibuk. Pekerjaan dan tugas tidak hanya mengajar, tapi juga mempersiapkan soal UTS, mempersiapkan revisi Bab I dan mempersiapkan Bab II, pengolahan instrumen penelitian yang harus aku buat dari nol dan hanya berlandaskan teori, lalu tiba-tiba ada tambahan tugas: persiapan ujian PPL. Whaatt!!! Jadilah skripku terbengkalai lagiii. Sedang fokus-fokusnya bikin persiapan ujian ehhh tiba-tiba ujiannya ga jadi. Gondok pasti, tapi ya apa boleh buat, sabar adalah pilihan yang tepat kalo ga mau stress dan ngamuk ke orang lain khususnya orang itu.. orang itu.. maupun orang itu… hahahhaah

Jadilah mulai bulan Maret dan diikuti bulan-bulan selanjutnya sampai Mei 2015, aku berjiabaku dengan penelitian plus skripsi, mengajar, dan persiapan ujian hingga ke ujian PPL. It just not stop until this point, but aku harus mempersiapkan skripsi dengan matang lagi dan full buat diserahkan buat dosen pembimbing agar bisa sidang secepatnya. Target sidang sebenernya bulan Juli atau Agustus, tapi atas izin Alloh, alhamdulillah bisa sidang bulan Juni. Dan perjuangan buat sidang dan juga buat pengolahan skripsi melalui tetes-tetes air mata sodara-sodara hiksss (beneran bukan boong ini). Kalo diceritain mah dramatis binggo siissss perjuangan biar bisa sidangnya hihihihi dan aku ga mau cerita detailnya dehh.. maluu (kalo sekarang mah, ga tau ntar wkwkwk)

But then, alhamdulillah aku bener-bener bisa ikut sidang bulan Juni. Dan tau kan bulan Juni 2015 ini uda mulai puasa di pertengahan bulan, jadilah kita, para pejuang skripsier PIPS 2011 gelombang pertama trahun ini dan beberapa PIPS 2010 sidang di tengah puasa. Dan ga tau mesti bersyukur atau gimana, tapi alhamdulillah aja, aku lagi “kedatangan tamu” dan untuk stamina terutama mulut yang menjadi senjata utama sidang sedikit lega 😀

Beres sidang dan dinyatakan lulus, actually that’s not finis yet. Aku harus perbaikan bab II hasil dari sidang dengan penguji dan mempersiapkan artikel buat syarat lainnya untuk wisuda. Alhamdulillah lagi perbaikan dengan dosen penguji ga memakan waktu lama. Bukan apa-apa booo… mau pulkam, kan bentar lagi lebaran hehehehhe. Artikel juga berjalan dengan mulusss.. alhamdulillah..

20150907_083030.jpg

(penampakan skripsi sayaaa 😀 )

Nahh habis ini nih, langsung dah beres-beres kosan untuk cabut beneran, pulkam beneran dan ga balik lagi ngekost, jadilah ngelelang perabotan gede yang ga bisa dibawa melintasi laut Jawa karena memakan biaya dan tenaga trus ngarungin baju-baju, buku-buku (cieee yang sayang sama buku__jarang lho ada cewe yang sayang sama buku dan lebih mentingin buku daripada sepatu-sepatu sama baju-baju yang fashionable__ahaha geer mode on), dan benda-benda kesayangan lain yang memungkinkan buat dibawa pulang kampung :D. Truss akhirnya nyampailah kite di kampong halaman tanpa beban yang tersa sangat berat selama hampir 22 tahun hidup di dunia dalam kurun waktu +/- 5 bulan.

Well setelah itu rasa malas datang hahaha. Karena keenakan istirahat ditambah suasana lebaran dan persiapan wisuda jadi agak malas buat nulia. Ditambah lagi, jaringan internet kalo di kampung tuh susah banget, soalnya aku pake 3. Kalo pake telkomsel mah lancar-lancar aja, Cuma aku sayang kuota sisa bulan kemaren dan hemat duit aja hihihihihi. Tapi akhirnya sampe pake telkomsel pun tetep ga nulis dan aku ngaku deh, aku malas pasca wisuda dan lebaran haji bulan Sept dan Okt kemaren. Maaf yaaa hiks (nunduk pasrah dimarahin blog hiakhiakhiak)

Oke, mungkin hanya ini dulu. Selanjutnya ga tau mau nulis apa. Cerita wisuda barangkali pilihan yang bagus. Seenggaknya foto-foto aku bisa kesimpen di site ini. buat antisipasi sih.. dan maaf ya mungkin tulisan ini kurang menarik bagi yang mauuuu membacanya, soalnya uda lama ga nulis lagi heheheh

Mohon dukungannya. Terima kasih, syukron, gamsahamida, arigatou, thank you, xie-xie, merci, danke, makaseh 😉

Wassalamualaikum wa rahmatullah wa barokatuh 😀

 

 

Hafidzah Bertemu Hafidz

Penampakan pengantin saat diarak menuju pelaminan.

Penampakan “arak-arakan” pengantin saat menuju pelaminan

Bismillahirrahmaanirraahiim

Dengan mengucapkan nama Alloh Subhanahu wa Ta’ala, pencipta alam semesta berikut isinya, penguasa langit dan bumi serta jagat raya dengan planet, bulan, bintang, matahari, galaxi-galaxi yang tak terhitung jumlahnya.
Subhanallaoh, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, Allohu Akbar….
Semoga cerita ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga cerita nyata ini dapat kita ambil hikmahnya, dapat kita tiru semua kebaikan yang terkandung di dalamnya.
Pernah mendengar kata hafidz? Atau kata hafidzah (baca: hafidzoh)? Jika kalian pernah mendengarnya kalian mungkin akan berkata, “MashaaAlloh… yang hafal Al-Qur’an kan?”. Atau dengan kata-kata umum seperti ‘wah’, ‘keren’, dan semacamnya. Oke, dalam tulisan kali ini aku akan membahas mengenai seorang hafidzoh dan… juga seorang hafidz. Sebenarnya tulisan ini sudah nangkring sekitar seminggu lebih, karena beberapa alasan. Salah satunya adalah untuk meminta izin dulu kepada subjek yang akan diceritakan. Namun karena tak kunjung dibalas pesannya di chat facebook, jadinya sekarang di-post sajalah tanpa ada izin. Toh juga sudah banyak juga diberitakan. Tapi kalo suatu saat yang diceritakan ini membaca tulisan ini, mohon izinnya yah teteh cantik nan sholehah :).
Aku memang tidak kenal dekat dengan pasangan yang baru menikah ini. Tidak dengan sang hafidzoh, yaitu Ghaitsa Zahira Sofa dan tidak juga dengan hafidznya, yang dikenal dengan Ustadz Maulana Yusuf. Jauuhhh… 😀
Hanya mengenal Ghaitsa lewat Facebook. “Memohon” permintaan pertemanan, kemudian diterima. Alhamdulillah…. Di Fb-nya sendiri banyak mem-posting seruan-seruan Islami, menceritakan berbagai kisah teladan, dan menyampaikan bermacam-macam nasihat yang ia peroleh dari ulama-ulama wanita. Sebutlah mamahnya (Teh Ninih Muthmainah dan beberapa tokoh wanita lain) karena Ghaitsa notabene merupakan seorang santri yang belajar agamanya sudah ke mana-mana (beda dari aku yang baru cari ilmu agama di DT itu juga cuma ikut kajian Ma’rifat aja, belum nambah kajian lain 😦 ). Hanya itu saja yang aku ketahui dari Ghaitsa. Terakhir yang aku tahu dia nyantri di Jogjakarta (hasil dari “kepo”-nya aku di fb-nya. Maaf yaa Ghaitsa, diem2 kepo’in kamu, tapi ga ada niat jahat ko. Serius 🙂 )
Seperti itulah yang aku tahu tentang Ghaitsa. Hingga pada tanggal 12 Februari 2015 ketika aku mendengar kajian Ma’rifatullah Aa Gym dari radio, beliau mengumumkan pernikahan anaknya yang ke-4 yang bernama Ghaitsa Zahira Sofa in shaa Alloh akan menikah pada tanggal 7 Maret 2015 dengan Ust. Maulana Yusuf. Kemudian pengumuman-pengumuman lainnya pun diumumkan kepada para hadirin jama’ah yang hadir maupun mendengar dari radio. Hal yang paling mengejutkanku dan membuatku speechless adalah Ghaitsa dan Ust. Yusuf ini sama-sama penghafal Al Qur’an alias hafidz dan hafidzah yang juga menyelesaikan hafalannya dari lingkungan pesantren yang sama di daerah Kuningan. Bukan hanya aku saja, bahkan semua jama’ah yang menghadiri majelis juga terdiam sejenak. Hingga Aa Gym bertanya kenapa pada diam semua, tidak senangkah dengan kabar ini. Begitu kata beliau dan suasana mencair kembali. Bukanlah karena tidak senang, melainkan suatu kabar yang sangat membahagiakan dan membuat orang sangat kagum bahkan mungkin iri seperti halnya aku dengan kabar yang mashaaAlloh luar biasa ini. Ahhh… bukankah Alloh akan memberikan pasangan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik dan begitu pula sebaliknya.
Ingin seperti Ghaitsa, mendapatkan pasangan yang sama-sama baik? Tentu aku benar-benar menginginkannya. Tapi untuk mendapatkannya bukankah aku harus memperbaiki diri ini, mempersiapkan diri ini, dan memantaskan diri ini juga. Adapun hasilnya itu adalah kuasa Alloh. Dan setelah kabar ini, tidak lama kemudian kabar pernikahan teman, sahabat, saudariku yang kupanggil Gom menikah pada tanggal 21 Februari 2015 kembali mengejutkanku. Kebetulannya adalah dua muslimah hamba Alloh yang in shaa Alloh akan menebar kebaikan dan teladan bagi para muslimah di dunia khususnya di Indonesia dan lebih khusus lagi di daerah masing-masing ini lahir pada bulan dan tahun yang sama, Desember 1993. Hanya perbedaannya Gom lahir tanggal 8 sedangkan Ghaitsa lahir pada tanggal 19 (maaf lagi Ghaitsa jika salah, tahu tanggal lahirnya dari FB juga hehe). Well… mereka adalah kelahiran Desember dengan jeda waktu 11 hari dan jeda pernikahan 14 hari. Ga jauhhh… entahlah yang jelas kebetulan ini pasti atas takdir, izin dan ridho Alloh.
Sampailah hari H dimana pernikahan akan dilangsungkan. Sehari sebelumnya, Jum’at 6 Maret 2015 mempelai laki-laki mengulang kembali hafalannya dari pagi hingga pagi hari Sabtu 7 Maret 2015 sesaat sebelum akad nikah. Hafalan ini sendiri menurut Ust. Yusuf (hasil dari baca berita) bukanlah sebagai mahar perkawinan. Mungkin dapat disebut dengan hadiah untuk pengantin perempuan, calon istri. Tapi yang aku tahu hafalan ini merupakan rangkaian dari acara pernikahan.
Ketika hari H tiba, tentu aku datang untuk menyaksikan pernikahan yang bersejarah ini. Sayangnya ga bisa masuk ke dalam masjid karena sudah penuh oleh para jama’ah (baca: para jama’ah yang hadir di kajian Ma’rifatullah diundang Aa Gym secara lisan untuk hadir di pernikahan anaknya. Semoga Alloh membalas kebaikan beliau, aamiin). Gara-gara aku-nya yang lalai juga sih, diajakin temen datang jam 7 ehh molor lagi pas uda bangun (kebiasaan buruk, jangan ditiru 😀 😦 ). Hasilnya, berdirilah aku terkatung-katung sendirian di luar dengan kerumunan lebih dari ratusan orang menyaksikan acara akad nikahnya dari beberapa layar, mulai dari layar raksasa hingga layar yang biasa saja dan yahh pas akadnya layar itu ‘hilang’. Begitu pun penyerahan mas kawin, ‘hilang’ lagi deh layarnya (sabar ya dek *nyemangatin diri sendiri 😀 ).
Ga nyerah doongg, niat datang ke sini bukanlah untuk minta makanan gratis, tapi memang benar-benar ingin menyaksikan dan ikut mendoakan pasangan hafidz dan hafidzah ini. Bertahan hingga sang pengantin diarak menuju pelaminan yang berada di dome Daarut Tauhid. Sayang kaaan bawa DSLR ga dapet foto pengantin langsung hihihi… Daaaan setelah lumayan lama menunggu akhirnya pengantin pun datang juga… aku berada di sisi kiri jalan saat pengantin lewat. Jepret-jepret-jepret. Dapat deh 3 foto pengantin, 2 foto lengkap berpasangan, 1 foto cuma pengantin ikhwan. Dan satu foto ternyata Ghaitsa melihat ke arah kamera aku 😀

ehhh baru tau ternyata Ghaitsanya ternyata nyadar ke kamera aku :D

ehhh baru sadar ternyata pandangan matanya Ghaitsa menatap ke kamera aku 😀

MashaaAlloh cantiknya pengantin akhwat dan pengantin ikwan yang teduh. Kedua mempelai menebarkan cahaya hafidznya yang menebar ke segala arah. Membuat semua orang merasakan begitu bahagianya hari itu. Begitu indahnya pernikahan ini. Ya Alloh, semoga Engkau meridhoi dan memberikan kebahagiaan yang tak putus kepada pasangan ini. Semoga segala keberkahan terus mengalir kepada pasangan ini dari dunia hingga di akhirat. Semoga mereka bisa mengamalkan ilmu mereka untuk kebaikan untuk hamba-Mu yang lain sehingga kami bisa mengikuti jejak pasangan ini, aamiin.
Dan selesai sudah yang ditunggu-tunggu. Karena sebenarnya niat hanya ingin melihat akad dan pengantin saja kalau pergi sendirian, aku memilih untuk bertemu dengan temanku. Bertanya apa dia mau pulang atau mau masuk ke dalam. Well katanya mau masuk saja. Kebetulan dari UKDM UPI jadi diundang sama Teh Ninih, gitu katanya… Karena ada temen ikut saja deh ke dalam :D. Dalam hati, good, akan bisa melihat lebih dekat dan bersalaman dengan Ghaitsa dan Teh Ninih, kenapa tidak pikirku (maaf ya Ghaitsa terkesan ambil kesempatan, tapi bener-bener pengen salaman dan liat dekorasi walimahnya hehe). Dan subhanAlloh, antrian para undangan akhwat panjaaanggg binggooo. Orang-orang ini datang dengan niat silaturahmi seperti ibu-ibu yang berada di depanku saat antri, in shaa Alloh.
Dalam walimah sendiri terdapat PhotoBoot, wall stand Ghaitsa&Yusuf (apalah namanya, ga tau eke juga… pokoknya yang kayak di acara award award gitu di tipi trus ada dinding yang sponsor trus ada nama acara tempat si artis biasanya pose sana-sini dulu di depan kamera hihihi kudet nih :p ), stand makanan tentunya, dan dekorasi pelaminan yang cantik banget. Di pelaminan ini, tempat pengantin akhwat dan ikhwan dipisah atau diberi batas. Sehingga jika pengantin akhwat hanya bersalaman dengan undangan akhwat begitupun dengan pengantin ikhwan. Ahh… berharap banget ketika tiba waktuku untuk berada di tempat yang sama, bisa menerapkan aturan yang bernuansa Islami ini, semoga… aamiin.

nihh wall stand, apalah namanya :D yang tau komen saja yaa :) kudet nih yang upload :p

nihh wall stand, apalah namanya 😀 yang tau komen saja yaa 🙂
kudet nih yang upload :p

Setelah satu jam mengantri dapatlah kami ini bersalaman dengan Gahitsa juga Teh Ninih dan ibu mertuanya pengantin akhwat. Jepret, foto dulu pengantinnya dan Ghaitsa pasang senyum menawan ke arah kameraku. Siip… setelah itu salaman sambil ngasih ucapan selamat yang kaku, lupa ngedoain seperti yang dianjurkan Rasulullah karena ga terlalu hafal (maaf ya pengantin, in shaa Alloh doanya dari dalam hati aja dengan maksud yang sama 🙂 ). Dan sebentar saja, ga sampai 1 menit hahaha ironis banget dengan waktu satu jam mengantri. Ga berani ngajakin foto bareng karena dari host acara diharapkan untuk udangan tidak berfoto karena antrian masih panjang. Kasian juga yang di belakang kalo kita maksa. But it’s oke-lah, dapat foto pengantinnya aja boleehhh dan okeeehh 😀

Ghaitsa-nya nyadar kamera lagi... foto dulu sebelum salaman :D

Ghaitsa-nya nyadar kamera lagi… foto dulu sebelum salaman 😀 

Alhamdulillah bisa menyaksikan pernikahan yang indah ini dan bersyukur Alloh menakdirkan aku untuk mendapatkan kost di lingkungan Pondok Pesantren Daarut Tauhid. Banyak hal yang aku peroleh dari tempat ini. Semoga Alloh selalu melindungi, meridhoi, melancarkan segala aktivitas di PonPes ini. Semoga nantinya akan lebih banyak para tahfidz Qur’an yang akan lahir dari Ponpes Daarut Tauhid, yang akan mengikuti jejak sang pengantin. Semoga kebahagiaan dan panjang umur serta segala ridho Alloh kepada psangan pengantin khususnya dan kepada seluruh elemen yang berada di bawah naungan pesantren. Aamiin 🙂

Nih, beberapa moment yang sempat diabadikan dari kamerakuhh 😀

Pak Wakot Ridwan Kamil (depan) dan Pak Gub Ahmad Heryawan (belakang), saksi nikah pengantin. Kata Aa Gym datang sebagai bagian keluarga DT.

Pak Wakot Ridwan Kamil (depan) dan Pak Gub Ahmad Heryawan (belakang), saksi nikah pengantin. Kata Aa Gym datang sebagai bagian keluarga DT.

Prof. Ahsin (paling depan dan tengah), guru hafidz kedua mempelai.

Prof. Ahsin (paling depan dan tengah), guru hafidz kedua mempelai.

ke para photografer gadungan, ceuk Aa Gym,"Pengantinnya di sana, di belakang, bukan saya." Hahaha

ke para photografer gadungan, ceuk Aa Gym,”Pengantinnya di sana, di belakang, bukan saya.” Hahaha

Antrian akhwat yang panjaaaang dan padaaatt binggooo

Antrian akhwat yang panjaaaang dan padaaatt binggooo

ngeliat antrian akhwat yang panjang, Aa Gym sampai turun tangan dan minta maaf harus berdesak-desakan... tenanaon atuh pak Aa Gym :D

ngeliat antrian akhwat yang panjang, Aa Gym sampai turun tangan dan minta maaf harus berdesak-desakan… tenanaon atuh pak Aa Gym 😀

ironis banget dengan baris ikhwan yang hampir ga ngantri dan lancar jaya :D

ironis banget dengan baris ikhwan yang hampir ga ngantri dan lancar jaya 😀

eeiitsss sebelum salaman pun harus dikasih palang dulu pemirsah yang berupa dua tangan akhwat yang saling terhubung.. cucok dehhh :D

eeiitsss sebelum salaman pun harus dikasih palang dulu pemirsah yang berupa dua tangan akhwat yang saling terhubung.. cucok dehhh 😀

nihh quote favorit buat yang masih single dalam masa penantian maupun yang sudah menikah

nihh quote favorit buat yang masih single dalam masa penantian maupun yang sudah menikah

layar lebar di pinggir jalan yuhuuu

layar lebar di pinggir jalan yuhuuu

kayaknya kalo ngundang yang banyakan sampe yang datangnya 7000-an undangan kudu pake voucher gini yah biar terkendali. hmmmm...

kayaknya kalo ngundang yang banyakan sampe yang datangnya 7000-an undangan kudu pake voucher gini yah biar terkendali. hmmmm…

foto prawed nyaa.. ga perlulah foto di taman, pantai, kebun, sawah, gunung, lapangan bola atau lapangan lainnya sambil peluk sana-sini dan menatap sana-sini sebelum ijab-qabul.. cukup seperti ini saja.. toh nanti sesudah akad bebaslah mau ngapain juga.. kan uda halal ;)

last, foto prawed. ga perlulah foto di taman, pantai, kebun, sawah, gunung, lapangan bola atau lapangan lainnya sambil peluk sana-sini dan menatap sana-sini sebelum ijab-qabul.. cukup seperti ini saja.. toh nanti sesudah akad bebaslah mau ngapain juga.. kan uda halal 😉

Aku memanggilnya Gomsimari… Gomsimariku yang Sudah Menjadi Muslimah Sejati

Gomsimari selfback di Danau Biru Singkawang (terakhir bertemu Ramadhan 2013)

Gomsimari selfback di Danau Biru Singkawang (terakhir bertemu Ramadhan 2013)

 

Aku mengucapkan salam sebagai seorang muslimah, Assalamualaykum warahmatullahi wabarokatuh kepada seorang saudari yang menjadi muslimah sejati dan semoga terus diistiqomahkan.

Kuawali menulis kali ini dengan salam. Tidak seperti biasanya yang sering diawali kata “well”, “hey”, “hallo”, dan beberapa kata lainnya. Kuawali dengan salam karena tulisan ini bercerita tentang seorang teman, sahabat, saudari. Saudari yang menurutku berperan penting dalam kehidupanku terutama semenjak 2 tahun belakangan ini.

Awal mula aku bertemu dengannya pada tahun ajaran baru 2008/2009 di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Singkawang. Saat itu kami baru saja melepas seragam putih-biru dan menggantinya dengan seragam putih-abu. Aku menjadi penghuni kelas XD (10 D), sedangkan dia menghuni kelas XA. Aku sudah menggunakan jillbab (baca: kerudung), sedangkan dia masih berurai rambut panjang berwarna hitam pekat 🙂 . Masa awal sekolah aku dan dia memang tidak pernah bertegur sapa. Hingga suatu saat dia berkunjung ke kelasku dikarenakan suatu hal. Dan kunjungan itu menjadi lebih sering dari biasanya. Dari situ kami mulai berkenalan dan menjadi teman.

Tahun ajaran berganti, kami akan naik ke kelas XI dan aku memilih jurusan IPS. Ketika dimulainya tahun ajaran baru ternyata aku ditempatkan di kelas XI IPS 1. Tak kusangka dia juga masuk kelas yang sama. Waktu bergulir menjadi begitu cepat… secepat pertemananku dengannya. Kami menjadi akrab dengan hobi yang sama. Sama-sama suka menonton film, terutama Korea dan Bollywood (India). Aku dan dia bahkan beberapa teman sekelasku yang lain sering bertukar DVD bajakan. Saling meminjam dan saling berbagi informasi tentang film atau drama korea yang bagus. Juga saling berburu film dan drama Korea (teutama) di toko DVD bajakan :D.

Dia adalah seorang perempuan yang bersifat ceria, suka membantu temannya, seseorang yang lurus-lurus saja, bahkan bersifat kekanak-kanakan :D. Jadi banyak diantara kami yang memanggilnya anak kecil, budak kecil, atau biak kecil. Tentu dia akan protes bahkan marah ketika kami memanggilnya demikian. Pura-pura merajuk itulah bentuk perlawanannya kepada kami 🙂 sedangkan aku hanya akan memanggilnya biak kecil ketika menggodanya saja 😀 karena aku memiliki panggilan tersendiri untuknya.

Gomsimari. Aku memanggilnya Gomsimari. Biasa ku singkat dengan Gom.

Panggilan ini berawal karena dia sering menyanyikan lagu Gomsimari dari drama korea berjudul “Full House”. Gomsimari yang artinya adalah 3 beruang, menceritakan keluarga kecil beruang yang terdiri dari Appa Gom (ayah beruang), Eomma Gom (ibu beruang), dan Aegi Gom (anak beruang, tulisan “aegi”nya ga tau bener atau salah hehehe). Dia tidak keberatan aku memanggilnya Gomsimari atau yang lebih senang ku singkat dengan Gom. Panggilan ini melekat dengannya bahkan hingga sekarang (walau sekarang dia mulai keberatan sihh :D) dan menjadi panggilan khusus, kesayanganku dengannya 🙂 .

Pertemanan kami berjalan baik-baik saja. Para penghuni IPS 1 dari kelas XI-XII menjadi keluargaku lainnya di SMAN 3 Singkawang. Kami biasa berdebat, saling memaki, bertengkar, kemudian meminta maaf, kompak kembali, berteman lagi, menjadi keluarga lagi, dan saling menyayangi. Semuanya berjalan lancar hingga suatu hari Gom pun jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang juga sama-sama sekelas.

Aku tidak ingat kapan mereka mulai “pacaran” (harus aku tulis dengan tanda petik karena aku alergi dengan kata ini :D). Namun pada awal masa “pacaran” mereka, ahh si Gom ini terlihat sangat bahagia. Betapa tidak, laki-laki yang dia idolakan dari SMP sekarang sangat dekat dengannya atau menjadi “pacar”nya lah (sori Gom, aku benar2 tidak suka mengatakan ini). Perjalanan “pacaran” mereka ternyata panjang sekali, berlanjut hingga kelas XII. Namun yang terjadi belakangan adalah menggalaunya si Gomii ini. Bayangkan saja ketika akan menghadapi UN SMA dimana seharusnya kami konsentrasi dengan ujian, dia malah menggalau. Hingga suatu hari, tepatnya tengah hari suatu peristiwa terjadi. Tiba-tiba saja Gom ke toilet dan tidak mau keluar. Aku tidak tahu secara detail apa yang terjadi di dalam sana. Tapi teman-teman yang lain berusaha membujuknya kembali ke kelas. Dari cerita teman-teman aku tahu kalau Gom sedang ada masalah dengan cintanya. Namun sekali lagi aku tak tahu itu apa. Hingga aku dengar seperti ini, kata teman-taman yang membujukknya dia berkata “kalau air dalam bak mandi ini dalam maka aku menceburkan diri ke dalamnya”. Spechless… aku shock mendengar kata-kata itu. Bagaimana mungkin hanya karena seorang laki-laki yang sama sekali tidak ada artinya bisa membuat seorang perempuan putus asa seperti itu. Dari peristiwa ini, aku yang memang tidak pernah setuju dan tidak melakukan hubungan “pacaran” karena dengan logikaku aku menganggap hal ini tidak ada manfaat sama sekali, menjadi semakin yakin bahwa “pacaran” itu useless alias tak ada gunanya…

Gom… hingga saat ini aku berterima kasih kepadamu. Dengan izin Alloh melalui dirimu aku semakin yakin akan keputusan yang kuambil :*

Waktu terus berjalan….. kami semua semakin konsentrasi dengan UN. Perkara cinta anak SMA pun sudah terlupakan.

Setelah lulus SMA, kami melanjutkan hidup kami masing-masing. Aku dan sebagian besar teman, termasuk Gom memilih untuk kuliah. Perbedaannya adalah aku kuliah di Bandung sedangkan Gom memilih di Pontianak saja.

Masa awal perkuliahan adalah adaptasi sehingga secara otomatis kami jarang melakukan komunikasi. Hanya bertegur sapa melalui grup FB saja. Setelah itu tidak ada sama-sekali. Aku dan Gom baru bertatap muka setelah 2 tahun kami lulus SMA. Itu pertengahan tahun 2013 pada bulan Ramadhan. Karena kangen dengan Singkawang dan chatting dengan Gom, aku memutuskan pergi ke sana. Singkat cerita kami pun bertemu dan melepas rasa rindu dengan berpelukan, cipika-cipiki, de-el-el. :D.

Gom berubah. Dari penampilan dan sikap dia sudah berubah. Gom yang dulu berurai rambut hitam panjang, sekarang sudah menjadi wanita muslimah yang berhijab syar’i. Aku? Kalah telak dengan sopannya dia dalam berpakaian walaupun sudah berjilbab dari SMA bahkan MTs. Sifatnya juga berubah. Lebih pendiam, tenang, dan kalem. Sebenarnya aku sudah tau dia mulai berjilbab saat kuliah. Namun aku kaget saja dengan kenyataan yang terjadi. Sungguh, aku sebenarnya malu ketika bertemu dengannya yang sudah berhijab syar’i, sedangkan aku belum ada perubahan sama sekali. Gom sudah mulai dewasa sekarang. Cap anak kecil sudah dilepas…. 😀 Alhamdulillah, Gom menjadi muslimah yang seharusnya. Terima kasih banyak ya Alloh :’).

Kami mengobrol, bahkan sangat lama karena aku menginap di rumahnya selama 1 malam :D. Banyak cerita yang keluar dari mulut kami. Gom menyinggung masalah “pacaran” bahkan di Fb. Dia sering mengatakan kepadaku dan April dan menandai kami di status Fb kalau kami sangat beruntung tidak pernah pacaran. Aku menanggapinya sewajarnya dan aku katakan bahwa setiap orang memiliki takdir dan jalan hidup yang berbeda. Namun dari obrolan ini, aku semakin yakin dari sebelumnya kalau “pacaran” is useless.

Gom… terima kasih sekali lagi atas keyakinan ini. Terima kasih Alloh karena menjadikan Gom seorang teman baikku.

Aku kemudian kembali lagi ke Bandung setelah lebaran dan masuk tahun ke-3 kuliah. Aku memutuskan untuk berhijab yang benar. Jangan syar’i dulu.. pelan-pelan saja. Yang penting pakaianku sudah tidak meperlihatkan lekuk tubuh dan mulai menutup dada dengan jilbab yang benar. Aku menggunakan gamis. Seorang Nurul Maulidya Putri yang sangat tomboy sekarang menggunakan gamis dan mulai berjilbab lebar.

Tak lain ini juga disebabkan oleh dirimu Gom. Alhamdulillah yang tak terkira kepada Alloh, melalui dirimu Gom dan melalui salah satu teman kosan serta intensnya mengikuti kajian Ma’rifatullah di Daarut Tauhid, aku menggunakan jilbab yang sesuai disyari’atkan. Pelan-pelan tapi pasti, semoga aku diistiqomahkan seperti kalian. Aamiin….

Semuanya berjalan lancar-lancar saja. Gom semakin baik jilbab syar’i nya. Dan aku berusaha pelan-pelan untuk menjadi muslimah yang lebih baik. Berusaha istiqomah baik dari penampilan maupun bersikap layaknya seorang muslimah. Hingga pada hari Minggu, 22 Februari 2015 aku membuka Fb dan melihat salah satu foto yang menandai Gom bahwa dia sudah di khitbah. Aku kaget bukan kepalang. Ini mimpi atau bukan? Dan aku semakin kaget ketika ada posting dari temannya Gom kalau sudah SAH. S – A – H. Yappp, SAH akad pernikahannnya pada Sabtu malam. Mashaa Alloh….. Barakallahu laka wa baraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fi khair…..

Aku penasaran. Aku chat dengannya lewat Fb. Langsung bertanya, “Gom, nikah atau khitbah?” Agak lama dia membalasnya. Kemudian dia reply-nya, “Nikah Ul.” Mashaa Alloh, nih anak benar-benar bikin surprise banget-banget-banget. Kemudian di chat itu dia pun cerita bagaimana pertemuannya dengan suaminya :). Tak ada kata dan doa lain selain kebahagiaan, keridhoan Alloh dunia dan akhirat, keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah untuk teman, sahabat, saudariku yang satu ini. Aku semakin kaget dan terharu setelah membaca pengumumannya dan proses pernikahannya yang singkat tapi khidmat dan in shaa Alloh diridhoi Alloh diposting oleh Gom di Fb. Inilah isi pengumumannya:

Bismillaah …
Menanggapi berita serta foto yang telah beredar di akun-akun medsos, in syaa ALLAH benar adanya bahwasanya saya Megawati sudah melangsungkan akad nikah pada hari Sabtu malam tanggal 21 Februari 2015 di Singkawang.
***
Afwan jikalau berita ini mengagetkan banyak pihak, Biga sudah menjalani proses ta’aruf dengan waktu yang sangat singkat tapi cukup panjang juga untuk diceritakan, awalnya sengaja gak ngasi kabar kepada sahabat-sahabat dan teman-teman semuanya terkait hari Sabtu, 21 Februari 2015 yang telah direncanakan keluarga sebelumnya sebagai hari dimana Biga dikhitbah, “Rahasiakanlah Khitbah (lamaran), umumkanlah Pernikahan” (HR. Ibnu Hibban), tapi ternyata terdapat kejutan didalamnya.
***
Ketika Bapak calon mempelai lelaki selesai menyampaikan niat ingin mengkhitbah, Abah Biga tiba-tiba bercerita dihadapan semua tamu undangan terkait kronologis kejadian yang menyebabkan hari Sabtu malam itu terjadi, begini kira-kira, “Hari ini adalah hari yang istimewa buat saya dan sedikit gemeteran karena kemarin tahun lalu saya mencoba menyerang dalam rangka menjadikan satu anak tertua saya mendapatkan istri (melamar.red) sekarang malah giliran saya yang diserang.

Jadi .. dua minggu yang lalu saya lagi di luar kota, di sms oleh anak nomor dua saya, dia belum pernah sms saya seperti ini sebelumnya, jadi dia bilang *Bismillaahirohmanirrohim. Abahku, ada seorang lelaki yang mau bertemu dengan Wali Biga. Biga serahkan semua keputusan sama Abah dan Mama, in syaa ALLAH Biga akan terima.*, saya jawab “Datang ke rumah di Singkawang hari Kamis, 5 Februari 2015”, trus anak saya bilang *Maaf Bah, lelaki itu bilang lagi ujian dan praktek di Pontianak jadi gak bisa ke Singkawang*. Yasudah saya mengalah, ketemu di Pontianak hari Jumat, 6 Februari 2015. Anak saya memang sudah jauh-jauh hari berniat *Jika ada lelaki pemberani datang menemui Abah duluan dengan syarat si lelaki ini mengaji, dan keluarga suka maka dia akan memilihnya*.

di waktu yang sudah ditentukan, akhirnya saya bertemu dengan lelaki yang dimaksud anak saya. Kami berbincang, saya tanya sama lelaki ini “Ada apa? Kamu ada niat baik atau niat jahat sama anak saya?” kemudian dia senyum, saya bilang “In syaa ALLAH saya bisa membaca, intinya jika kamu punya niat baik. Proses ini akan berjalan”. Nama lelaki ini, Abang Suprianto.

Saya tiba-tiba di sms lagi sama anak saya, *Sebenarnya Bah, Biga belum pernah kenal bahkan belum pernah bertemu dengan lelaki ini. Tapi Biga yakin* saya heran dan kaget, loh? Kok ada berita aneh ini? Ada apa ini? (semua tamu undangan tertawa), saya memang pernah mendengar bahwa cerita zaman dulu ada cerita yang seperti ini, itu saya anggap hanya cerita tidak kenyataan dan semenjak saya dewasa hingga sampai sekarang belum pernah ketemu dengan kejadian semacam ini, belum pernah kenal bahkan belum pernah melihat, tiba-tiba minta dijodohkan dan itu pun anak saya bilang semua keputusan diserahkan kepada Abah dan Mama. Saya bingung, kok gak pernah kenal? (tamu undangan tertawa lagi), cuma kalo si Abang sudah pernah lihat Biga bah katanya pada saat Biga jual kue. Terus bagaimana kamu yakin? Dia bilang *Karena Abang adalah alumni Lembaga Dakwah Kampus dan juga sekarang Abang masih mengaji/masih sering ke majelis ilmu. In syaa ALLAH itu sudah cukup untuk meyakinkan bahwa Abang bisa menjadi imam yang baik*. Mohon maaf kepada para tamu, ini saya cerita panjang. Karena ini sejarah bagi saya, apalagi anak saya mau saya lepas jauh ke Melawi, cerita semacam dongeng zaman dahulu sekarang terjadi dan ini nyata terjadi pada anak saya.

Setelah selesai bertemu dengan si Abang kira-kira pukul setengah 11, anak saya dari Singkawang nelpon dan bertanya *Sudah bertemu Bah?* Istri saya juga nanya berapa nilainya, saya bilang nilainya 70. *Kok hanya 70?* kata mereka, saya jawab baru sekali 70 dah tinggi dah. Jadi sejarah ini belum pernah terjadi dimanapun, mudah-mudahan lelaki ini adalah anak baik. Jadi saya sudah pernah bilang sama dia bahwa pernikahan bukan permainan dan juga jangan dimain-mainkan. Jika sekali melangkah, maka lakukan!. Dan alhamdulillaah minggu kemarin hari Sabtu, tanggal 14 Februari 2015 anak saya Biga didampingi Adik saya dan Istrinya di Pontianak bertemu dengan orangtua Abang, Adiknya Abang dan juga Abang pun hadir. Muncul lagi pertanyaan “Sudah lihat belum?”, anak saya jawab *Belum Bah, malu”, saya tambah bingung jadinya. (semua orang tertawa) ada cerita lagi sebenarnya tapi itu rahasia saya dan anak saya, kalo saya ceritakan bahaya. Hehe .. Jadi, untuk sementara jawaban atas lamaran saudara Abang Suprianto ini saya terima. (Alhamdulillaah).

Ceritanya setelah pertemuan minggu lalu, berlanjut lagi malam ini, dirumah ini. Jadi ini minggu yang ketiga, berlanjut terus prosesnya gak tau minggu depannya apalagi. Saya berharap niat baik ini akan menjadi kenyataan dan sesuai tujuan utama yakni memperoleh ridho dari Allah SWT didunia hingga akhirat. Hadirin tamu yang saya hormati, jadi ada lagi cerita yang harus saya ceritakan. Dari sekian banyak cerita yang saya sampaikan tadi disamping suatu sejarah bagi saya karena dulu hanya cerita dongeng tapi sekarang akan menjadi kenyataan, saya sudah berfikir panjang dari kemarin-kemarin hingga tadi “Kalau seperti ini, repot juga. Karena anak saya tidak saling kenal, hanya dengan keyakinan, ini tidak akan ketemu kalo dibiarkan terus-terusan. Saya sempat nanya tadi kepada Abang “Apakah ada ikatan atau larangan untuk menikah pada masa perkuliahanmu? Dia jawab dengan gagah “Tidak ada, bahkan banyak teman saya ada yang sudah mempunyai anak.”.

Saya melihat respon positif dari keluarga kami, kemudian melihat niat baik Abang Suprianto dan keluarga serta … (Abah menangis), saya melihat betapa payahnya anak saya untuk bertemu melihat calonnya dengan satu alasan segalanya sudah diatur oleh syariat Islam, untuk keberkahan dalam suatu hubungan lelaki dan wanita dengan awal yang tidak pernah ternodai, bahwa jika belum menikah, saya belum bisa bertemu dan berbincang lama, berbicara dari hati ke hati dengan dia. Cukup ridho orangtua dan keluarga menjadi awal bekal keteguhan hati untuk melangkah.

Mendengar kata-kata anak saya, saya tersenyum dan saya punya pemikiran. Akhirnya, saya tanya beberapa hari sebelum hari ini kepada Abang, apakah bisa hadir saat khitbah? Abang jawab “Hadir, tapi jam 7 malam pulang karena besok pagi ada jadwal piket.” saya bilang tunda dulu, ikuti acara sampai selesai. Pesan taxi jam 3 ada dak? Kalo gak ada nanti saya antar, yang terpenting hadiri sampai selesai. Inti dari semua ini adalah saya berharap kepada Istri saya, Ibu, Abangnya Biga dan Abang-abang serta Adik-adik saya dengan niat baik Abang Suprianto dan keluarga serta berharap niat baik dan ikhlas untuk memperoleh keridhoan dari Allah SWT untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Selaku wali dari Megawati anak kedua saya, bahwa di malam tanggal 21 ini dan umur anak saya saat ini 21 tahun, dengan kisah yang panjang, saya terima lamaran dari Abang Suprianto. dan … saya minta kepada Abang, keluarga dan para hadirin disini, dengan tidak mengurangi suatu keinginan dan suatu keharusan yang nantinya harus dipenuhi secara hukum negara, malam ini saya ingin MENIKAHKAN anak saya Megawati dengan beberapa alasan yang sudah saya sebutkan tadi dan saya minta kepada Abang kesediaannya untuk menikahi putri saya. Jangan perdulikan omongan orang-orang, saya tidak ada mengatakan rencana ini kepada istri saya sebelumnya tapi saya sudah berbincang dengan anak saya yang memang dia menginginkan kehalalan suatu hubungan. Niat saya ini muncul karena beberapa alasan tadi, saya ingin membuat sejarah yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dulu hanya cerita sekarang akan menjadi nyata. Anak saya yang tidak saling kenal, hanya bermodal keyakinan mudah-mudahan dengan niat seperti ini dapat memperoleh ridho Allah dunia hingga akhirat (Aamiin).
****
*Ma syaa ALLAH!
Bismillaah .. QS. Ar-Rahmaan, menjadi kekasih halal dimata dunia dan akhirat atas izinNya.

Mohon doanya dari semua sahabat-sahabat dan teman-teman.
In syaa ALLAH ditunggu saja undangan walimahannya ya
.”

Sebagian besar yang membaca terharu dan spechless dengan postingan ini… bagaimana tidak hanya yakin kepada Alloh dia berani menerima lamaran bahkan langsung menikah dengan seseorang yang dia tidak pernah bertemu. Kalau aku mungkin tidak bisa demikian. Entahlah… apa yang terbaik dari Alloh kepadaku saja nanti 🙂 Semoga Alloh selalu meridhoi kalian di dunia dan akhirat Gomm 🙂

Terima kasih Gom, sudah mengajarkanku banyak hal, sudah membuatku memegang teguh prinsip ini, terima kasih sudah menyadarkanku untuk menjadi muslimah lebih baik. Terima kasih banyak Alloh, sudah mempertemukanku dengan saudariku, seorang teman dan sahabat yang memberikan perubahan positif.

Nb:

Sebenarnya sudah lama ingin menulis tentangmu Gom, namun alhamdulillah atas izin Alloh baru sekarang terealisasi. Semoga Alloh ridho.. aamiin…

Mirip Si ‘Ini’ Ya………

Nahh setelah dibiarkan bersemedi selama 2 minggu-an, akhirnya dipost juga di blog tercintah 😀 Gara2 nyarri penyebab fenomena yang akan diceritain sih… tapi tetap ga ketemu. Nyerah 😦 dan berharap kalian tau fenomena itu!

Sering ga sih kalian merasakan ketika bertemu seseorang yang baru dilihat pertama kali secara sepontan kalian mengatakan,”orang ini mirip si…. yaaa.” Orang ini rasanya familier deh, ya ga sih? Itu merupakan kalimat lainnya ketika secara sengaja atau tak sengaja kalian bertemu seseorang yang mirip dengan teman, kerabat, atau keluarga kalian.

Hakikatnya manusia itu memiliki naluri sepontan untuk merasakan bahwa orang-orang baru yang mereka temui mirip dengan kenalan yang sudah lama dikenal (ini menurut aku lohh hehehe). Adapun sebab fenomena ini sering terjadi di setiap diri manusia aku juga tidak tahu. Udah search di Prof. Google pun aku masih tidak menemukan penyebab fenomena ini. Yahh jika kalian tau nama dan sebab fenomena ini apa silakan di komen yah hehehe… sharing ilmu bareng 😉

Umak (panggilan untuk ibuku dalam bahasa melayu Sambas) sering atau bahkan bisa dikatakan selalu mengucapkan kata-kata di atas ketika bertemu dengan seseorang pertama kalinya. Ditempat keramaian seperti pasar, kantor, bank, bandara maupun di angkot dan bahkan di televisi pun, beliau selalu mengatakan kepada teman yang sedang bersamanya baik itu Bapak, abangku, temannya, bahkan diriku sendiri seperti,” Dek, mirip si ‘ini’ ya.” Bahkan sekitar sebulan yang lalu ketika kami berada di bandara, setelah kami melakukan chek-in dan akan masuk ke ruang tunggu, beliau langsung berkata dengan Bapak,”Ngah (panggilan umak buat bapak) mirip ini yaaa.” Hehehehe 😀

Kadang aku selalu bilang bahwa umak itu pasti akan berkata mirip ini dan itu ketika bertemu seseorang yang pertama kali dilihat. Aku selalu saja menggoda beliau kemudian umak membalas dengan kata-kata andalannya seperti, “Memang bener kok”, (dengan tertawa tentunya haha) seperti itulah. 😀

Dan ternyataaaa bapak pun merasakan hal yang sama dan aku pun juga seperti itu. Kami juga secara sepontan berkata bahwa,”mirip ‘ini’ yaa…,” wkwkkwkw. Sehingga itu adalah kesempatan umak untuk membalas dengan menggodaku kembali. Beliau selalu bilang,” Tuh kan, kamu juga bilang gitu”, disambut dengan tawa kami. 😀

Begitulah… Kenyataannya bahwa setiap orang memiliki naluri secara sepontan untuk merasakan bahwa seseorang yang pertama kali ia temui mirip dengan seseorang yang sudah lama ia kenal. Umak, Bapak, aku dan teman-temanku juga sering merasakan hal yang sama. Bagaimana denganmu?

PK (Peekay)

pk_cover

Sumber gambar: idesimusic.com

Well… dalam tulisan kali ini aku akan mereview tentang salah satu film Bollywood yang baru dirilis di India bulan Desember 2014. Peekay atau disingkat dengan Pk adalah salah satu film bollywood yang dibintangi oleh Aamir Khan, Anushka Sharma, Boman Irani, dan Shusant Singh. Menurutku, film yang satu ini pantas untuk kalian masukkan sebagai salah satu film bollywood yang wajib ditonton.

Pk atau Peekay dalam bahasa India berarti pemabuk. Sebagaimana orang yang mabuk dengan bicara yang tidak jelas dan aneh akibat pikirannya dipengaruhi alkohol, tokoh Pk yang diperankan oleh Aamir Khan ini memang berperilaku aneh. Eeittss tapi tunggu dulu… Pk bicara hal-hal yang aneh bukan karena dipengaruhi alkohol. Pk merupakan makhluk alien yang datang ke bumi untuk melakukan penelitian mengenai kehidupan di bumi. Oleh karena itu banyak hal yang tidak ia ketahui tentang bumi sehingga membuatnya penasaran dan bertanya serta berbicara hal-hal yang sepele namun sering membuat orang yang ditanyai bingung untuk menjawabnya.

Pk juga tidak mengerti bahasa planet bumi. Ketika mendarat di bumi Pk tidak mengenakan pakaian alias telanjang. Namun ketika ia menemukan manusia pertama kalinya, kalung yang dipakai Pk sebagai remote kontrolnya untuk memanggil pesawat terbang/UFO –nya dirampok oleh manusia yang pertama ia temukan itu. Pk pun mencari remote tersebut yang membawanya semakin banyak bertemu dengan manusia dan kehidupan bumi. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Jaggu (Anushka Sharma) yang membantunya mencari dan mendapatkan kembali remote kontrolnya.

Hakikatnya film yang juga diproduseri oleh Aamir Khan sendiri ini pun ingin menyampaikan suatu pesan sebagaimana film-fim sebelumnya seperti Taare Zaamen Par dan 3 Idiots. Dalam film ini Aamir Khan sepertinya ingin agar setiap pemeluk agama untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Walaupun ada beberapa agama-agama dunia terutama di India yang mencekal film ini karena menyinggung pemuka agama dan agama di India khususnya agama Hindu.

Yupp mungkin itu dulu review filmnya. Selanjutnya kalian harus, kudu, wajib hukumnya untuk nonton film ini. Aku sudah dua kali loh nontonnya dan itu tetep seru hehehe. Selamat menonton!! 🙂

Jodoh?

13863790521476347946

Sumber gambar: sosok.kompasiana.com

Satu kata ini sering aku dengar, terutama saat perkuliahanku berada di tingkat akhir. Teman-temanku yang tentunya didominasi para kaum hawa ini tak akan pernah menolak jika membicarakan jodoh 😀 Para kaum hawa ini selalu menyinggung soal cowok-lah, suami-lah, jodoh-lah, dan apa yang orang-orang sebut dengan kata pacar…. Aiigooo, kadang enek juga sih kalo yang diomongin cuma itu-itu aja….

Namanya juga para mahasiswi tingkat akhir, omongannya memang ga jauh dari kata itu. Lulus kuliah, kerja, nikah, punya anak, next, next, next, dan next…. (ini kata temen aku lho, inisial namanya ‘H’ :D) Well itu memang bener sihh. Tapi apa kalian para kaum hawa punya planing lain, punya omongan lain selain jodoh dsb, dsb…? Kalo akuuu, yaa kalo akuu mah ada banyak hal yang ingin aku lakukan meskipun kadang ada terbersit wacana tentang jodoh hahahaha.

Bagiku, hidup setiap manusia itu harus memberikan manfaat bagi orang lain. Sebagai perempuan, aku sangat sadar kalau suatu hari nanti aku menikah, pasti aku harus memberikan manfaat bagi suami dan anak-anakku kelak. Tapi apakah manfaat yang dapat aku diberikan hanya itu saja? Tentu saja tidak. Jika aku mau dan punya keinginan kuat, aku bisa melakukan lebih dari itu. Oohhh wait…, ko ngomongnya ke sini ya?kan fokusnya jodoh? Haadooyy… 😀

Yaaa begitulah, para mahaisiswi ini ada yang terlalu sibuk memikirkan siapa jodohku kelak, seperti apa sang jodoh itu, trus kapan ketemu, trus kapaa akan nikah, trus “pacaran’ berapa tahun, trus ada ga ya laki-laki yang mau sama dia, trus bla.. bla.. dan blaa… (isi sendiri yaa :D)

Menurutku daripada mikirin jodoh yang terlalu overthinking itu, mending fokus aja sama kuliah tingkat akhir, fokus planing masa depan (di luar pembahasan jodoh lho yaa hehe), fokus planing manfaat pendidikan yang sudah kita peroleh, fokus bikin proyek atau produk yang bisa memiliki manfaat bagi orang banyak. Dibandingkan dengan terlalu fokus mikirin jodoh sampai-sampai secara ga sadar kalian memposting hal itu di sosmed yang tersedia dan secara tak sadar juga itu mengganggu orang lain meskipun kalian ga bermaksud sedemikian itu. Mikirin jodoh sih syah-syah aja, tapi jangan terlalu over gituu… Kalem, tenang, woles sajoo dengan urusan jodoh. Toh Alloh pasti udah nyiapin yang terbaik buat kita masing-masing, tinggal kita nyiapin diri sendiri aja, sudah pantes apa belum buat nikah, sudah siap apa belum buat ngurusin rumah tangga, dan lainnya.

Jika kita sudah siap, Alloh bilang kita sudah siap, wusssssshhhh datang deh tuh jodoh. Hati kita terbuka, segala urusannya lancar, rezeki juga lancar aja, dan menikahlah kita. Tapi jika belum siap, ya tetap belum datang tuh jodoh. Hati kita tertutup, hati orang lain juga tertutup, rezeki pun tertutup sudah. Seperti itulah aku berpikir tentang jodoh, tentang nikah, tentang suami, dan tentang kehidupan rumah tangga. Semuanya ga simpel kawan, kau harus siap untuk semua itu. 😉

Jawai – Singkawang – Bandung, Manakah yang Akan Menjadi Rumahku?

Rumah adalah tempat dimana kita akan selalu kembali dan selalu ingin kembali.

Sampai aku berumr 21 tahun, aku sudah tinggal di tiga tempat. Pertama adalah tempat kelahiranku sekaligus kampung halamanku. Kampung halamanku berada di sebuah desa yang kebetulan di pulau tempat tiga negara berdampingan, Borneo. Sarilaba adalah nama desaku. Berada di kecamatan Jawai Selatan, kabupaten Sambas, salah satu kabupaten yang berada di Kalimantan Barat dengan jarak yang paling dekat dengan negara jiran, Malaysia. Selama 14 tahun aku menikmati segalanya di sana. Masa kecil, masa SD, dan masa MTs, walaupun sebenarnya hampir setengah tahun aku berada di luar kota untuk sekolah.

Tempat kedua adalah Singkawang. Kota yang juga dikenal dengan kota Amoy bagi orang-orang lokal dan kota seribu kelenteng. Di kota ini aku menghabiskan masa remajaku, masa-masa SMA yang dipenuhi dengan kedinamisan suatu jiwa manusia. Tahap awal dalam pencarian jati diri dan masa-masa yang penuh dengan kenangan manis, berbuat banyak kesalahan, yang hanya peduli dengan kesenangan, merraih banyak prestasi dan tak lupa juga masa terakhir untuk memperebutkan rangking kelas. Selama tiga tahun aku berada di kota ini berteduh di tiga rumah yang berbeda. Begitu banyak hal yang aku dapatkan selama berada di kota amoy.

Bandung adalah tempat ketiga yang hingga saat ini aku masih berdiri tegak di atas tanahnya atas izin Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Selama tiga tahun, kota kembang ini memberikanku dan mengajarkanku banyak hal. Menuntunku secara perlahan-lahan menjadi seorang manusia yang baik dan lebih baik lagi. Proses ini sangat aku sadari dan aku banyak belajar dari setiap detiknya. Maka tidak mengherankan jika aku mulai menyukai Bandung bahkan mencintainya sama seperti aku mencintai kampung halamanku. Sampai pada suatu hari aku berkata kepada Umak bahwa Bandung dan Jawai menempati posisi yang sama untuk kujadikan tempat tinggal. Saat itu aku menilai Bandung dan Jawai menempati posisi 50%-50%. Aku berada di tengah-tengah untuk memilihnya.

Namun, beberapa hari yang lalu, saat aku akan kembali menimba ilmu di Bandung yang mengharuskanku kembali meninggalkan tanah kelahiranku. Saat itu aku baru menyadari bahwa kenyataannya aku hanya mencintai satu tempat dari ketiga tempat itu. Kenyataannya kampung halaman adalah rumah dimana semua orang selalu ingin kembali. Ketika aku akan meninggalkan tanah Borneo, aku tak dapat menahan butir air yang mengalir dari mataku. Ini sangat berbeda ketika aku meninggalkan Bandung. Walaupun saat mudik tiba-tiba terasa berat meninggalkannya di tahun ketigaku disini, namun sedikitpun aku tidak meinitikkan air mata.

Begitulah. Bandung memang memberikan banyak hal kepadaku namun kenyataannya aku lebih mencintai Jawai, desa Sarilaba yang berada di tanah Borneo. Meskipun di tanah kelahiranku ini memiliki cuaca yang sangat panas, fasilitas minim yang sangat jauh berbeda dengan Bandung, dan beberapa hal yang tidak dapat dimilikinya seperti dimiliki Bandung. Kenyataannya aku lebih mencintai Kalimantan dibandingkan dengan Bandung.

Mungkin akan ada yang menganggap bahwa aku terlalu berlebihan atau bahasa gaulnya anak sekarang adalah “alay”. Tapi bagiku rumah adalah tempat kita selalu ingin kembali. Meskipun kita sudah menjelajah ke negeri mana pun, tetap saja terdapat satu tempat yang tak pernah lepas dari hati.

 

tulisan ini baru diposting. kemaren2 gagal terus uploadnya 😦

Dongeng

Gambar

Bagaimana dengan masa kecil kalian? Hal apa yang sampai saat ini masih kalian ingat di memori yang kalian miliki? Mungkin hal yang kalian lakukan sepanjang hari pada saat bermain hingga waktu menjelang tidur? Apa yang dilakukan oleh Ayah atau Ibu atau nenek dan kakek kalian saat kalian hendak tidur? Pernahkah mereka mengantar tidur kalian dengan sebuah cerita dongeng?

Dongeng. Merupakan sebuah cerita fiksi yang biasanya sarat akan nilai moral dan budi pekerti yang baik dan sering diceritakan kepada anak-anak terutama saat malam tiba. Seperti itulah kiranya definisi sebuah dongeng yang aku rangkum sesuai dengan makna sebuah dongeng yang aku ketahui hingga saat ini. Tentu saja kalian bisa mendefinisikan dongeng dari sudut pandang kalian masing-masing atau hanya mengambil definisi dari para ahli tentang dongeng itu. Dongeng menjadi sebuah pengantar tidur yang baik bagi anak-anak. Nila-nilai teladan yang baik menjadi sebuah bekal bagi anak-anak agar menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur saat mereka bernjak dewasa kelak.

Bagiku sendiri dongeng merupakan sebuah memori yang tidak akan terlupakan sepanjang hidupku. Ia merupakan sebuah memori masa kecil yang paling membahagiakan dibandingkan dengan bermain dengan teman-temanmu. Aku menyebutnya seperti itu karena ketika kau ingin pergi tidur maka pasti ada yang akan menemanimu dengan berbagai cerita yang menarik. Berbada pada saat kita bermain dengan teman-teman, karena pada umumnya waktu bermain itu pada siang hari saat segala aktifitas dilakukan. Maka saat ada yang menceritakan sebuah dongen kepadamu ketika hendak tidur itu merupakan hal yang sangat membahagiakan karena saat tidur semua orang sudah selesai dengan segala kegiatannya dan hanya peduli dengan dirinya masing-masing. Maka sangat mulialah para orang tua yang selalu menyempatkan dirinya yang sudah lelah hanya untuk menceritakan sebuah dongeng kepada anaknya.

Ada beberapa dongeng yang masih aku ingat secara utuh, tetapi ada pula dongeng yang hanya aku ingat inti ceritanya saja bahkan hanya lirik lagunya saja yang aku ingat. Terutama lagu-lagu yang terdapat dalam dongeng itu, bisa dipastikan aku masih mengingatnya hingga sekarang. Dari sekian dongeng tersebut ada salah satu lagu yang sebenarnya sudah mewakili keseluruhan cerita itu. Ibuku sangat sering menyanyikannya baik itu menjelang tidur atau di lain waktu, dan begitu pula denganku. Lagu itu merupakan dialog antara seorang anak kecil yang bicaranya masih cadel dengan gargasi (raksasa) tua yang di panggil “nek”. Lirik lagu tersebut  yang masih kuingat seperti berikut:

Tumboh, Tumboh mane umakmu
Tumboh, Tumboh mane umakmu

Nek, ie aggi accai Nek
Aggi uan ubbon Nek
Ubbon amuu

Tumboh, Tumboh ade ke tinggalek-eng
Tumboh, Tumboh ade ke tinggalek-eng

Nek, atas ayak api Nek
Atas ayak appi nek
Ambek coyang

Mungkin akan sangat asing bagi kalian yang baru pertama kali membaca lirik lagu ini. Karena lagu ini berasal dari suku Melayu Sambas yang terdapat di Kalimantan Barat. Aku sangat yakin, jika kalian tidak mengerti lirik lagu tersebut. Hehehe 😀

Well, secara singkatnya jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia lirik ini menceritakan seorang nek gargasi sedang mendatangi sebuah gubuk yang dihuni oleh seorang ibu dan anaknya yang masih kecil. Konon cerita ibuku bahwa nek gargasi ini sering ke gubuk untuk meminta bubur Intamu (salah satu bubur masyarakat Sambas) ketika ibu anak kecil ini sedang menjual buburnya di pasar. Maka ketika nek gargasi datang, yang pertama dia lakukan adalah menanyakan di mana ibu anak kecil itu. Jika ibu sudah ke pasar maka nek bertanya apakah masih ada bubur yang disisakan di rumah, dan jawab anak kecil itu masih ada dan tersimpan di atas arak api (tempat penyimpanan kayu bakar yang terletak di atas tungku memasak) dan nek gargasi bisa mengambilnya sendiri.

Memang lirik lagu ini tidak sarat akan makna nilai budi pekerti seperti lagu-lagu dalam dongeng lain yang pernah diceritakan kepadaku. Namun aku sangat suka dengan lagu ini. Aku pun tidak tau alasannya. Namun tidak hanya lagu ini saja, jika terdapat nyanyian di setiap dongeng tersebut maka aku langsung menyukainya dan lebih cepat mengingatnya. Well, mungkin kalian memiliki kesimpulan tersendiri mengenai lagu ini atau kalian memiliki dongeng-dongeng pengantar tidur di usia anak-anak yang masih kalian ingat. Aku akan sangat senang jika kalian menceritakannya padaku. 😉

 

Sumber gambar ilustrasi: dongengnyata.blogspot.com